Cerita di Balik Kelezatan Rujak Soto Banyuwangi
Karya : Steva Tyahara Erinta
Alkisah, di sebuah desa kecil di
ujung timur Pulau Jawa, hiduplah seorang wanita bernama Rujanah. Ia tinggal
bersama Ibu dan adik perempuannya bernama Sarinah. Wanita satu adik tersebut
dibesarkan di keluarga yang kaya raya,
sehingga semua kebutuhan yang diinginkan terpenuhi. Rujanah selalu menghabiskan
uangnya untuk membeli makanan, yang ada di benaknya selalu makanan, makanan dan
makanan. Setiap hari Rujanah makan hingga 6 kali
dengan porsi 2 piring dalam sehari. Dia tidak pernah memperdulikan kandungan gizi
pada makanan yang ia makan. Semua makanan yang ada di depannya pasti dilahap. Hingga akhirnya, berat badannya mencapai 123 kg.
Berbeda dengan Rujanah, Sarinah memiliki badan yang
kurus karena tidak
terlalu suka makan. Setiap saat Ibu dan Sarinah selalu mengingatkan Rujanah
agar mengurangi pola makannya yang berlebihan. Akan tetapi, Rujanah seringkali
menghiraukan nasehat Ibu dan adik perempuannya.
“Rujanah..
Kamu harus mengurangi pola makanmu yang berlebihan!” Ucap Ibunya kepada
Rujanah.
“Iya kak, benar
kata Ibu, kakak harus diet!” Sahut Sarinah dengan leluconnya.
“Ah malas sekali.. Diet itu malah membuat
sakit saja!” Rujanah menjawab dengan santai.
Suatu hari, Rujanah
sedang berbelanja di pasar, ia akan membeli
kebutuhan sehari-hari. Pandangan semua orang langsung tertuju padanya,
karena di tengah-tengah suasana pasar yang ramai, Rujanah justru membuat
kegaduhan. Ia bersikap tidak sopan terhadap penjual, ingin segera dilayani dan
tidak mau antre. Hal ini membuat pembeli dan penjual merasa kesal dengan sikap
Rujanah. Akan tetapi, ia tidak menghiraukan hal itu dan tetap saja marah-marah.
Suasana pasar pun menjadi sangat ramai akibat pertengkaran para pembeli dan
penjual kepada Rujanah.
“Saya mau beli
daging banyak, jadi ibu-ibu harus minggir dulu!” Kata Rujanah sambil mendorong
ibu-ibu yang mengantre.
“Rujanah!
Jangan seenaknya saja! Kamu harus mengantre meskipun beli daging banyak.” Jawab
pembeli dengan kesal.
“Tidak bisa
dong, saya beli daging banyak, jadi harus didahulukan pelayanannya!” Rujanah
menjawab dengan nada kasar.
Sikap Rujanah
yang keras kepala dan egois membuat suasana pasar semakin ramai dan panas. Satu
per satu orang datang dan ingin melihat kegaduhan itu. Semua orang menjadi
kesal dan memanggil Rujanah dengan sebutan “Si Gentong”. Setelah beberapa waktu
lamanya, petugas keamanan pasar datang dan mendamaikan pertengkaran tersebut.
“Si Gentong!
Pergi dari pasar ini! Kamu sudah membuat kegaduhan!” Teriak orang-orang sambil
mengusir Rujanah.
“Aku ini tidak
bersalah!” Rujanah membentak dan tidak mengakui kesalahannya.
“Sudah.. Ayo
damai dan jangan bertengkar, mari semuanya bubar..” Ucap petugas keamanan
sambil membubarkan kegaduhan.
Suasana pasar
menjadi tenang setelah ada petugas keamanan yang membubarkan pertengakaran
tersebut. Satu per satu orang meninggalkan tempat itu dan kembali melakukan
aktivitas masing-masing. Dengan wajah kesal, Rujanah pulang tanpa membawa
barang belanjaan.
Saat Rujanah
tiba di rumah, ia langsung melampiaskan kemarahannya dengan memakan makanan
yang ada di rumahnya. Semua makanan dilahapnya hingga tidak ada satupun yang
tersisa. Kebiasaan buruk Rujanah tersebut selalu dilakukan setiap hari tanpa
memperhatikan kondisi badannya. Padahal Ibu dan Sarinah tidak henti-hentinya
menasehati Rujanah agar tidak makan terlalu banyak hingga menyebabkan badan
menjadi gemuk.
Peristiwa
pertengkaran di pasar itu membuat Rujanah dijuluki dengan sebutan “Si Gentong”
oleh warga sekitar dan teman-temannya. Setiap saat Rujanah keluar rumah, ia
selalu dipanggil Si Gentong. Rujanah sangat terpukul, karena setiap hari ia
harus mendengar ejekan itu. Keluarga Rujanah selalu sabar dan menenangkan
pikiran Rujanah. Ibu Rujanah menasehatinya agar ia dapat mengambil pelajaran
dari kejadian ini dan merubah sifat buruk pada dirinya.
“Rujanah..
Anakku yang cantik, kamu harus merubah sifat burukmu itu menjadi pribadi yang
baik nak.” Ucap sang Ibu dengan lemah lembut.
“Iya Bu, sikap
Rujanah memang salah, sehingga banyak orang yang tidak suka dengan denganku.”
Jawab Rujanah sambil menangis.
“Kamu juga
harus merubah kebiasaan makan yang berlebihan, agar tubuhmu menjadi langsing
seperti model.” Ibu Rujanah menjawab dengan halus.
“Iya Bu,
Rujanah akan berusaha diet dan olahraga agar langsing seperti model.” Jawab
Rujanah dengan semangat.
Setelah
mendengarkan nasehat ibunya, Rujanah menjadi sadar tentang sifat dan kebiasaan buruknya
selama ini. Setiap hari Rujanah berdoa agar ia berubah menjadi wanita yang baik
dan memiliki tubuh yang langsing.
Rujanah sangat
semangat ingin berubah, hingga terbawa dalam mimpinya. Dalam mimpinya, ia akan
bertubuh langsing jika memakan sayuran setiap hari, tidak makan secara
berlebihan, dan berbuat baik kepada orang. Di saat ia sedang menikmati mimpinya
yang indah, tiba-tiba Ibu Rujanah membangunkannya. Rujanah terbangun dengan
wajah gembira dan langsung bercerita kepada Ibunya tentang mimpi yang
dialaminya.
“Ibu.. Aku
bermimpi, bahwa aku akan berubah menjadi langsing jika memakan sayuran setiap
hari, tidak makan secara berlebihan, dan berbuat baik kepada orang.” Rujanah
bercerita dengan wajah gembira.
“Iya nak, Kamu
harus menjalankan perintah yang ada di mimpimu.” Jawab Ibunya sambil
menyemangati anaknya.
“Siap Bu, Aku
akan menjalankan perintah yang ada di mimpiku.” Rujanah menjawab dengan
semangat.
Mendengar
mimpi Rujanah yang menarik, maka Ibu Rujanah sangat mendukungnya agar ia
melaksanakan semua perintah yang ada di dalam mimpinya. Semua perintah yang ada
di mimpi Rujanah sangat bagus dan dapat merubah sikap buruknya menjadi baik. Dengan
memakan sayuran dalam porsi secukupnya setiap hari membuat badan Rujanah tetap
sehat dan tidak gemuk.
Rujanah akan
menjalankan semua nasehat baik dan perintah dalam mimpinya. Waktu demi waktu
dimanfaatkan Rujanah untuk merubah sifat buruknya yang egois dan keras kepala.
Ia meminta maaf kepada orang-orang yang telah disakitinya dan berjanji tidak
akan mengulangi kesalahan untuk kedua kalinya.
“Bapak-bapak,
Ibu-ibu, dan teman-teman… Saya minta maaf atas sikap buruk saya selama ini yang
telah menyakiti kalian semua. Saya berjanji akan berbuat baik kepada kalian
semua.” Ucap Rujanah sambil berjabat tangan dengan orang-orang.
“Iya Rujanah,
kami juga minta maaf karena selalu mengejekmu.” Orang-orang menjawab dengan
senang hati.
Setiap hari
Rujanah bersemangat mencari sayuran di ladangnya, ia hanya makan sayur dan
tidak mau memakan daging, telur, makanan berlemak, dan makanan lain. Dengan
semangatnya, berat badan Rujanah pun berkurang sedikit demi sedikit.
Suatu ketika,
Rujanah mengolah sayuran sedemikian rupa, ia mengolah menjadi rujak sayur.
Rujanah mengajak Ibu dan Sarinah untuk makan bersamanya.
“Sarinah..
Sarianah.. Ayo makan bersama dengan Ibu dan Kakak!” Rujanah memanggil Sarinah
yang belum juga datang di meja makan.
Rujanah
mencari adiknya sambil membawa piring berisi rujak sayur. Tiba-tiba Sarinah
datang dengan membawa semangkuk soto dan berjalan tergesa-gesa. Sarinah sangat
ceroboh, hingga menabrak kakaknya yang membawa sepiring rujak sayur. Semangkuk
soto tersebut tumpah di piring rujak sayur yang dibawa kakaknya. Akhirnya,
Rujak sayur Rujanah bercampur dengan soto. Ia bersedih karena tidak bisa
memakan rujak sayurnya.
“Aduh
Sarinah.. Rujak sayurnya bercampur soto, terus kakak makan apa?” Kata Rujanah
dengan wajah bersedih.
“Maaf kak, aku
tidak sengaja..” Dengan rasa menyesal Sarinah menjawabnya.
Mendengar
keramaian, Ibunya datang untuk menghampiri dan menenangkan kedua anaknya.
Ibunya mengambil Rujak sayur yang bercampur soto tersebut dan mencicipinya.
“Wah.. Enak
sekali sekali campuran rujak sayur dengan soto ini” Kata Ibunya dengan wajah
terkejut.
“Apa benar
Bu?” Rujanah dan Sarinah menjawab secara bersama-sama dengan penasaran.
“Iya nak, ini
lezat sekali.. Ini adalah makanan paling enak dari semua makanan yang pernah
Ibu makan dan kalian harus mencobanya.” Ibunya meyakinkan kedua anaknya.
Rujanah dan
Sarinah berebut mencicipi campuran rujak sayur dan soto tersebut. Betapa
terkejutnya mereka merasakan kelezatan dari masakan itu. Kemudian mereka
bersama-sama memakannya dengan gembira. Rujanah memberi nama makanan itu
menjadi “Rujak Soto”. Keluarga Rujanah menceritakan kelezatan dari Rujak Soto
ini kepada semua tetangga dan teman-temannya. Dari cerita keluarga Rujanah,
orang-orang igin mencoba makanan tersebut.
Hari demi
hari, makanan Rujak soto ini semakin menyebar di seluruh masyarakat ujung timur
Pulau Jawa. Rujak Soto dijadikan sebagai makanan khas asli Banyuwangi.
Kelezatan Rujak Soto, membuat masyarakat tertarik dan ingin mencobanya.
Masyarakat dari luar kota Banyuwangi juga berbondong-bondong ke Banyuwangi
hanya ingin mencicipi kelezatan Rujak Soto. Makanan ini pernah dijadikan agenda
Banyuwangi Festival, yaitu dalam acara Festival Rujak Soto Banyuwangi 2014.
Sumber http://www.mediafire.com/view/pr72d41af46ual8/Cerita_di_Balik_Kelezatan_Rujak_Soto_Banyuwangi.pdf
Sumber http://www.mediafire.com/view/pr72d41af46ual8/Cerita_di_Balik_Kelezatan_Rujak_Soto_Banyuwangi.pdf


0 komentar:
Posting Komentar