Sodexo Indonesia

Get Gifs at CodemySpace.com

Pages

Minggu, 14 Agustus 2016

Seberapa Pentingkah Sebuah Penghargaan Bagi Kamu ?



Seberapa Pentingkah Sebuah Penghargaan Bagi Kamu ?
       Bagi Saya, sebuah penghargaan sangatlah penting dalam kehidupan. Dalam mendapatkan sebuah penghargaan membutuhkan perjuangan yang sangatlah susah dan perjuangan yang besar. Membutuhkan usaha dan doa untuk mendapatkan sebuah penghargaan yang akan dikenang dalam seumur hidup. Setiap orang pasti ingin mendapatkan sebuah penghargaan.
        Sebuah penghargaan sangatlah penting, sehingga saya berusaha agar tetap mendapatkan penghargaan. Saat mendapatkan penghargaan, saya merasa senang dan bangga. Semua penghargaan yang saya dapat akan disimpan rapi untuk menjadi kenangan dalam hidup saya. Butuh perjuangan dan harus bersaing dalam mendapatkan penghargaan. Sehingga saya selalu bersyukur dan berterimakasih kepada semua pihak yang sudah membantu sehingga bisa mendapatkankan penghargaan. Penghargaan yang saya dapat merupakam bantuan, motivasi dan doa dari semua rekan-rekan yang sudah membantu.
      Penghargaan diberikan kepada orang yang telah mencapai tujuan dengan predikat terbaik. Sehingga Sebuah penghargaan adalah impian semua orang. Dengan adanya penghargaan kita menjadi lebih terkenal karena sudah meraih sesuatu yang diingikan dan sangat bermanfaat. Semua orang akan tertuju pada kita untuk dijadikan sebagai motivasi dalam kehidupan sehari-hari.
       Dalam kehidupan manusia, sebuah perhargan merupakan sesuatu yang sangat berarti. Jika mendapatkan sebuah penghargaan, bersyukurlah dan menjadikan penghargaan tersebut sebagai motivasi untuk selalu menjadi yang terbaik. Ketika sudah terkenal dengan peghargaan yang didapat, jangan bersikap sombong karena kita bisa mendapatkan penghargaan dari bantuan dan doa dari orang-orang dikitar kita. Bersikaplah rendah hati dan selalu memberi motivasi kepada semua orang agar mendapatkan sebuah penghargaan.  


Rabu, 10 Agustus 2016

Kerja Bakti Lingkungan

Kerja bakti Lingkungan bersama warga


Selasa, 24 November 2015

PANTAI PULAU SANTEN




Pulau Santen terletak di desa Karangharjo, sebelah selatan Stasiun Banyuwangi lama. Pantai ini berada dalam wilayah perairan Selat Bali. Dinamakan Pulau Santen karena didalamnya banyak ditumbuhi pohon yang dikenal oleh masyarakat Banyuwangi dengan nama pohon santen. Saat pagi hari, Pantai ini menyajikan pemandangan yang indah dikala cuaca cerah.

Di Pulau Santen juga terdapat sungai yang berarus tenang mengalir sepanjang dua kilo meter lebih memisahkan Kota Banyuwangi dan pulau kecil Pulau Santen yang dikelilingi mangrove berusia lima รข€“ sepuluh tahun lebih. Di tengah muara sungai terdapat sebuah delta yang membentuk pulau mangrove kecil. Dilihat dari jembatan tampak eksotis. Apalagi di sekitar delta itu akan ada beberapa warga sedang mencari kijing, sejenis kerang kecil. Mereka terlihat seperti sedang berendam. Air sungai tampak terbelah oleh delta mangrove tersebut. Arusnya begitu tenang menuju muara. Cocok untuk diarungi dengan perahu kecil atau sepeda apung. Pengunjung bisa melihat ikan-ikan kecil di air yang jernih, binatang-binatang laut, dan burung yang hinggap di ranting tanaman bakau.

Untuk menuju ke pulau kecil tersebut, para pengunjung tidak perlu repot atau kesulitan, karena untuk menuju ke wisata tersebut infrastruktur jalan sudah baik, mobil, motor dan bus-pun bisa menjangkaunya, angkutan lokal seperti ojek dan becak juga siap mengantarkan wisatawan ke tempat obyek wisata yang berjarak hanya sekitar tiga kilometer dari jantung Kota Gandrung tersebut. Ketika melintasi jalanan menuju Pulau Santen, para pengunjung akan disuguhi pemandangan bangunan peninggalan sejarah Stasiun lama Banyuwangi yang dibangun tahun 1985 di ketinggian +6M yang kini sudah menjadi pasar tradisional atau sering disebut pasar pujasera. 500 meter melangkah terdapat klenteng Hoo Tong Bio Banyuwangi tempat sembahyangan keturunan Tionghoa dengan ciri khas dan karakter yang kental dengan budaya cina. 
( china town ).


    Jangan membuang sampah sembarangan. Buanglah sampah pada tempatnya ^_^

Cerita di Balik Kelezatan Rujak Soto Banyuwangi




Cerita di Balik Kelezatan Rujak Soto Banyuwangi
Karya : Steva Tyahara Erinta

Alkisah, di sebuah desa kecil di ujung timur Pulau Jawa, hiduplah seorang wanita bernama Rujanah. Ia tinggal bersama Ibu dan adik perempuannya bernama Sarinah. Wanita satu adik tersebut dibesarkan di keluarga yang kaya raya, sehingga semua kebutuhan yang diinginkan terpenuhi. Rujanah selalu menghabiskan uangnya untuk membeli makanan, yang ada di benaknya selalu makanan, makanan dan makanan.  Setiap hari Rujanah makan hingga 6 kali dengan porsi 2 piring dalam sehari. Dia tidak pernah memperdulikan kandungan gizi pada makanan yang ia makan. Semua makanan yang ada di depannya pasti dilahap. Hingga akhirnya, berat badannya mencapai 123 kg.
Berbeda dengan Rujanah, Sarinah memiliki badan yang kurus karena tidak terlalu suka makan. Setiap saat Ibu dan Sarinah selalu mengingatkan Rujanah agar mengurangi pola makannya yang berlebihan. Akan tetapi, Rujanah seringkali menghiraukan nasehat Ibu dan adik perempuannya.
“Rujanah.. Kamu harus mengurangi pola makanmu yang berlebihan!” Ucap Ibunya kepada Rujanah.
“Iya kak, benar kata Ibu, kakak harus diet!” Sahut Sarinah dengan leluconnya.
 “Ah malas sekali.. Diet itu malah membuat sakit saja!” Rujanah menjawab dengan santai.
Suatu hari, Rujanah sedang berbelanja di pasar, ia akan membeli  kebutuhan sehari-hari. Pandangan semua orang langsung tertuju padanya, karena di tengah-tengah suasana pasar yang ramai, Rujanah justru membuat kegaduhan. Ia bersikap tidak sopan terhadap penjual, ingin segera dilayani dan tidak mau antre. Hal ini membuat pembeli dan penjual merasa kesal dengan sikap Rujanah. Akan tetapi, ia tidak menghiraukan hal itu dan tetap saja marah-marah. Suasana pasar pun menjadi sangat ramai akibat pertengkaran para pembeli dan penjual kepada Rujanah.
“Saya mau beli daging banyak, jadi ibu-ibu harus minggir dulu!” Kata Rujanah sambil mendorong ibu-ibu yang mengantre.
“Rujanah! Jangan seenaknya saja! Kamu harus mengantre meskipun beli daging banyak.” Jawab pembeli dengan kesal.
“Tidak bisa dong, saya beli daging banyak, jadi harus didahulukan pelayanannya!” Rujanah menjawab dengan nada kasar.
Sikap Rujanah yang keras kepala dan egois membuat suasana pasar semakin ramai dan panas. Satu per satu orang datang dan ingin melihat kegaduhan itu. Semua orang menjadi kesal dan memanggil Rujanah dengan sebutan “Si Gentong”. Setelah beberapa waktu lamanya, petugas keamanan pasar datang dan mendamaikan pertengkaran tersebut.
“Si Gentong! Pergi dari pasar ini! Kamu sudah membuat kegaduhan!” Teriak orang-orang sambil mengusir Rujanah.
“Aku ini tidak bersalah!” Rujanah membentak dan tidak mengakui kesalahannya.
“Sudah.. Ayo damai dan jangan bertengkar, mari semuanya bubar..” Ucap petugas keamanan sambil membubarkan kegaduhan.
Suasana pasar menjadi tenang setelah ada petugas keamanan yang membubarkan pertengakaran tersebut. Satu per satu orang meninggalkan tempat itu dan kembali melakukan aktivitas masing-masing. Dengan wajah kesal, Rujanah pulang tanpa membawa barang belanjaan.
Saat Rujanah tiba di rumah, ia langsung melampiaskan kemarahannya dengan memakan makanan yang ada di rumahnya. Semua makanan dilahapnya hingga tidak ada satupun yang tersisa. Kebiasaan buruk Rujanah tersebut selalu dilakukan setiap hari tanpa memperhatikan kondisi badannya. Padahal Ibu dan Sarinah tidak henti-hentinya menasehati Rujanah agar tidak makan terlalu banyak hingga menyebabkan badan menjadi gemuk.
Peristiwa pertengkaran di pasar itu membuat Rujanah dijuluki dengan sebutan “Si Gentong” oleh warga sekitar dan teman-temannya. Setiap saat Rujanah keluar rumah, ia selalu dipanggil Si Gentong. Rujanah sangat terpukul, karena setiap hari ia harus mendengar ejekan itu. Keluarga Rujanah selalu sabar dan menenangkan pikiran Rujanah. Ibu Rujanah menasehatinya agar ia dapat mengambil pelajaran dari kejadian ini dan merubah sifat buruk pada dirinya.
“Rujanah.. Anakku yang cantik, kamu harus merubah sifat burukmu itu menjadi pribadi yang baik nak.” Ucap sang Ibu dengan lemah lembut.
“Iya Bu, sikap Rujanah memang salah, sehingga banyak orang yang tidak suka dengan denganku.” Jawab Rujanah sambil menangis.
“Kamu juga harus merubah kebiasaan makan yang berlebihan, agar tubuhmu menjadi langsing seperti model.” Ibu Rujanah menjawab dengan halus.
“Iya Bu, Rujanah akan berusaha diet dan olahraga agar langsing seperti model.” Jawab Rujanah dengan semangat.
Setelah mendengarkan nasehat ibunya, Rujanah menjadi sadar tentang sifat dan kebiasaan buruknya selama ini. Setiap hari Rujanah berdoa agar ia berubah menjadi wanita yang baik dan memiliki tubuh yang langsing. 
Rujanah sangat semangat ingin berubah, hingga terbawa dalam mimpinya. Dalam mimpinya, ia akan bertubuh langsing jika memakan sayuran setiap hari, tidak makan secara berlebihan, dan berbuat baik kepada orang. Di saat ia sedang menikmati mimpinya yang indah, tiba-tiba Ibu Rujanah membangunkannya. Rujanah terbangun dengan wajah gembira dan langsung bercerita kepada Ibunya tentang mimpi yang dialaminya.
“Ibu.. Aku bermimpi, bahwa aku akan berubah menjadi langsing jika memakan sayuran setiap hari, tidak makan secara berlebihan, dan berbuat baik kepada orang.” Rujanah bercerita dengan wajah gembira.
“Iya nak, Kamu harus menjalankan perintah yang ada di mimpimu.” Jawab Ibunya sambil menyemangati anaknya.
“Siap Bu, Aku akan menjalankan perintah yang ada di mimpiku.” Rujanah menjawab dengan semangat.
Mendengar mimpi Rujanah yang menarik, maka Ibu Rujanah sangat mendukungnya agar ia melaksanakan semua perintah yang ada di dalam mimpinya. Semua perintah yang ada di mimpi Rujanah sangat bagus dan dapat merubah sikap buruknya menjadi baik. Dengan memakan sayuran dalam porsi secukupnya setiap hari membuat badan Rujanah tetap sehat dan tidak gemuk.
Rujanah akan menjalankan semua nasehat baik dan perintah dalam mimpinya. Waktu demi waktu dimanfaatkan Rujanah untuk merubah sifat buruknya yang egois dan keras kepala. Ia meminta maaf kepada orang-orang yang telah disakitinya dan berjanji tidak akan mengulangi kesalahan untuk kedua kalinya.
“Bapak-bapak, Ibu-ibu, dan teman-teman… Saya minta maaf atas sikap buruk saya selama ini yang telah menyakiti kalian semua. Saya berjanji akan berbuat baik kepada kalian semua.” Ucap Rujanah sambil berjabat tangan dengan orang-orang.
“Iya Rujanah, kami juga minta maaf karena selalu mengejekmu.” Orang-orang menjawab dengan senang hati.
Setiap hari Rujanah bersemangat mencari sayuran di ladangnya, ia hanya makan sayur dan tidak mau memakan daging, telur, makanan berlemak, dan makanan lain. Dengan semangatnya, berat badan Rujanah pun berkurang sedikit demi sedikit.
Suatu ketika, Rujanah mengolah sayuran sedemikian rupa, ia mengolah menjadi rujak sayur. Rujanah mengajak Ibu dan Sarinah untuk makan bersamanya.
“Sarinah.. Sarianah.. Ayo makan bersama dengan Ibu dan Kakak!” Rujanah memanggil Sarinah yang belum juga datang di meja makan.
Rujanah mencari adiknya sambil membawa piring berisi rujak sayur. Tiba-tiba Sarinah datang dengan membawa semangkuk soto dan berjalan tergesa-gesa. Sarinah sangat ceroboh, hingga menabrak kakaknya yang membawa sepiring rujak sayur. Semangkuk soto tersebut tumpah di piring rujak sayur yang dibawa kakaknya. Akhirnya, Rujak sayur Rujanah bercampur dengan soto. Ia bersedih karena tidak bisa memakan rujak sayurnya.
“Aduh Sarinah.. Rujak sayurnya bercampur soto, terus kakak makan apa?” Kata Rujanah dengan wajah bersedih.
“Maaf kak, aku tidak sengaja..” Dengan rasa menyesal Sarinah menjawabnya.
Mendengar keramaian, Ibunya datang untuk menghampiri dan menenangkan kedua anaknya. Ibunya mengambil Rujak sayur yang bercampur soto tersebut dan mencicipinya.
“Wah.. Enak sekali sekali campuran rujak sayur dengan soto ini” Kata Ibunya dengan wajah terkejut.
“Apa benar Bu?” Rujanah dan Sarinah menjawab secara bersama-sama dengan penasaran.
“Iya nak, ini lezat sekali.. Ini adalah makanan paling enak dari semua makanan yang pernah Ibu makan dan kalian harus mencobanya.” Ibunya meyakinkan kedua anaknya.
Rujanah dan Sarinah berebut mencicipi campuran rujak sayur dan soto tersebut. Betapa terkejutnya mereka merasakan kelezatan dari masakan itu. Kemudian mereka bersama-sama memakannya dengan gembira. Rujanah memberi nama makanan itu menjadi “Rujak Soto”. Keluarga Rujanah menceritakan kelezatan dari Rujak Soto ini kepada semua tetangga dan teman-temannya. Dari cerita keluarga Rujanah, orang-orang igin mencoba makanan tersebut.
Hari demi hari, makanan Rujak soto ini semakin menyebar di seluruh masyarakat ujung timur Pulau Jawa. Rujak Soto dijadikan sebagai makanan khas asli Banyuwangi. Kelezatan Rujak Soto, membuat masyarakat tertarik dan ingin mencobanya. Masyarakat dari luar kota Banyuwangi juga berbondong-bondong ke Banyuwangi hanya ingin mencicipi kelezatan Rujak Soto. Makanan ini pernah dijadikan agenda Banyuwangi Festival, yaitu dalam acara Festival Rujak Soto Banyuwangi 2014.

Sumber http://www.mediafire.com/view/pr72d41af46ual8/Cerita_di_Balik_Kelezatan_Rujak_Soto_Banyuwangi.pdf

Senin, 23 November 2015

Festival Ngopi Sepuluh Ewu Banyuwangi



BANYUWANGI - Sak Corot Dadi Saduluran. Kalimat itu sangat pas menggambarkan suasana Desa Kemiren Banyuwangi saat Festival Ngopi Sepuluh Ewu, Selasa malam (20/10). Ribuan orang dari berbagai kota bertamu untuk merasakan nikmatnya citarasa kopi khas Kemiren.

Malam itu Ida Salma sibuk menyiapkan puluhan cangkir, bubuk kopi dan gula. Dia juga menata aneka jajanan khas seperti kue cucur, lepet, tape bungkus daun kemiri, klemben dan apem di atas meja di halaman rumahnya.  Tepat selepas Isya, halaman rumahnya pun mulai ramai didatangi banyak orang.  Ida mengajak tamu- tamunya itu untuk menikmati hidangan. Tidak lupa cangkir cangkir berisi kopi panas disuguhkan kepada mereka.

"Saya sangat senang kedatangan tamu-tamu ini. Apalagi kalo mereka menghabiskan kopi dan hidangan yang saya sajikan. Dengan begini kan jadi menambah saudara," kata Ida saat berlangsungnya Acara Festival Ngopi Sepuluh Ewu.


Festival ini seluruh latar rumah di Desa Kemiren disulap menjadi ruang tamu yang menyuguhkan kopi Using dan jajanan tradisonal Banyuwangi. Uniknya semua cangkir yang dipakai memiliki bentuk dan motif yang seragam. Di festival ini, setiap orang bisa duduk di halaman rumah siapa saja. Sang empunya rumah akan menyambut, sembari mengajak ngobrol ringan si tamu. Suasana pun sangat guyub dan hangat. Sak corot dadi saduluran, sekali seduh kita bersaudara.

"Ngopi merupakan tradisi asli yang menggambarkan keramahan dan kemurahatian warga Using. Melalui festival kami ingin melestarikan tradisi sekaligus menjadi ikhtiar pemkab untuk menjadikan Kemiren sebagai destinasi wisata daerah," kata Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas. Anas menambahkan, festival Ngopi Sepuluh Ewu juga untuk memperkenalkan kekayaan kopi Banyuwangi. Banyuwangi memproduksi rata-rata hampir 9000 ton kopi per tahun dengan 90 persen jenis robusta dan 10 persen arabika.

"Even ini juga mendidik masyarakat proses menyajikan kopi dengan benar mulai penyangraian samapi penyeduhannya agar didapatkan citarasa kopi yang tepat," imbuh Anas.

Salah seorang pengunjung dari Polandia, Adam Labionski mengatakan sangat terkesan dengan even ini.  Dia merasakan sambutan yang hangat dari masyarakat di sepanjang jalan Desa Kemiren. "Acara ini sangat fantastic. Setiap rumah menyajikan suguhan kopi dan makanan secara gratis. Meskipun saya bukan penggemar kopi,tapi tadi saya merasakan kopi disini enak sekali," kata Adam.

Selain Adam juga ada pecinta kopi dari Malang, Sulaiha (46). Sulaiha sengaja datang ke Festival Ngopi setelah melihat informasi di sosial media. "Saya penyuka kopi kental. Setelah mencoba kopi disini ternyata memang kopinya sangat khas. Kadar asamnya tinggi, saat diminum rasa pahit kopi dan asamnya sangat kental. Bagi saya inilah kopi pekat yang sebenarnya," ujar wanita yang sejak kemarin sudah berada di Banyuwangi.

Sehari sebelumnya, Banyuwangi menjadi tuan rumah Kontes Kopi Spesialty Indonesia ke 7. Sebanyak 137 sampel kopi dari seluruh Indonesia ikut dalam kontes ini. Sejumlah tester kopi profesional dari dalam dan luar negeri diantaranya Jerman dan Belanda bertindak sebagai jurinya. Kopi yang menang dalam kontes ini langsung dipromosikan ke luar negeri.


BAPAK KOPERSI INDONESIA



Bung Hatta yang lahir dengan nama Muhammad Athar dan lahir di Bukit Tinggi pada tahun 2 Agustus 1902 dan menghembuskan nafas terakhirnya  di Jakarta, 14 Maret 1980 pada umur 77 tahun. Bung Hatta selain seorang Bapak Proklamator ia juga adalah sebagai seorang Bapak Koperasi Indonesia.Beliau adalah seorang pejuang, ekonomi dan wakil presiden Indonesia yang Pertama. Bung Htta menulis buku yang berjudul “Membangun Koperasi dan Koperasi membangun” Pada tahun 1971. Pada buku ini tertuang mengenai pemikiran-pemikiran tentang KOPERASI.

GUNUNG IJEN




Gunung Ijen adalah sebuah gunung berapi aktif yang terletak di perbatasan antara Kabupaten Banyuwangi dan Kabupaten Bondowoso, Jawa Timur, Indonesia. Gunung ini memiliki ketinggian 2.443 mdpl dan terletak berdampingan dengan Gunung Merapi. Gunung Ijen terakhir meletus pada tahun 1999. Salah satu fenomena alam yang paling terkenal dari Gunung Ijen adalah kawah yang terletak di puncaknya. Untuk mendaki ke gunung ini bisa berangkat dari Banyuwangi ataupun dari Bondowoso.


Untuk mencapai kawah Gunung Ijen dari Banyuwangi, bisa menggunakan kereta api ekonomi dengan tujuan Banyuwangi dan turun di Stasiun Karangasem kemudian naik ojek dengan tujuan Kecamatan Licin dan Desa Banyusari. Dari Banyusari, perjalanan dilanjutkan menuju Paltuding dengan menumpang truk pengangkut belerang atau menggunakan bus dan turun di Banyuwangi kota kemudian naik ojek bisa langsung ke Paltuding atau ke Desa Banyusari juga bisa namun dengan menggunakan bus tarif yang dikeluarkan akan lebih mahal. Pintu gerbang utama ke Cagar Alam Taman Wisata Kawah Ijen terletak di Paltuding, yang juga merupakan Pos PHPA (Perlindungan Hutan dan Pelestarian Alam). Alternatif rute adalah Bondowoso - Wonosari - Tapen - Sempol - Paltuding. Fasilitas lain yang dapat dinikmati oleh pengunjung antara lain pondok wisata dan warung yang menjual keperluan pendakian untuk menyaksikan keindahan kawah Ijen. Dari Paltuding berjalan kaki dengan jarak sekitar 3 km. Lintasan awal sejauh 1,5 km cukup berat karena menanjak. Sebagian besar jalur adalah dengan kemiringan 25-35 derajat. Selain menanjak, struktur tanahnya juga berpasir sehingga menambah semakin berat langkah kaki karena harus menahan berat badan agar tidak merosot ke belakang. Setelah beristirahat di Pos Bunder (pos yang unik karena memiliki bentuk lingkaran), jalur selanjutnya relatif agak landai, selain itu wisatawan / pendaki disuguhi pemandangan deretan pegunungan yang sangat indah. Untuk turun menuju ke kawah harus melintasi medan berbatu-batu sejauh 250 meter dengan kondisi yang terjal.